Share everything about my lecture in campus, about science of petroleum i have.

Tampilkan postingan dengan label Properties. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Properties. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 20, 2016

Komposisi Minyak Bumi

CRUDE OIL

1. Komposisi Minyak Bumi
Minyak bumi atau “crude oil” adalah senyawaan hidrokarbon dan non-hidrokarbon yang terdapat di dalam bumi. Minyak bumi berwarna coklat kehitaman sampai hitam, dalam bentuk cair dan terdapat gas–gas yang melarut di dalamnya, dengan berat jenis berkisar antara 0,8000 – 1,0000.
Unsur kimia penyusun minyak bumi adalah :
– unsur mayor adalah karbon dan hidrogen (disebut unsur hidrokarbon), dan
– unsur minor adalah sulfur, nitrogen, oksigen, halogen dan logam (disebut unsur non-hidrokarbon)
Besarnya kandungan (konsentrasi) unsur tersebut dalam berbagai macam minyak bumi, seperti ditunjukkan pada Tabel dibawah ini :
Sifat minyak bumi antara satu dengan ainnya berbeda–beda, dari yang ringan (encer) sampai pada yang berat (kental). Hal ini sangat bergantung pada jenis dan besarnya kandungan komponen (unsur) di dalam minyak bumi.
Tabel : Kisaran kandungan unsur – unsur dalam Minyak Bumi
Unsur
Konsentrasi (% wt)
Karbon (C)
83 - 87
Hidorgen (H)
10 - 14
Sulfur (S)
0.05 - 6,0
Oksigen (O)
0.05 - 1,5
Nitrogen (N)
0,1 - 2,0
Logam
10-5 -  10-2
Diharapkan bahwa minyak bumi mengandung unsur non-hidrokarbon dalam jumlah sekecil mungkin. Makin kecil kandungannya mempunyai nilai ekonomi makin tinggi, karena dengan kandungan yang kecil tidak memerlukan biaya yang tinggi dalam proses pengolahannya ataupun dalam pemenuhan spesifikasi produk yang dihasilkan.

2. Komponen Minyak Bumi
Komponen Minyak bumi terdiri dari :
– Komponen Hidrokarbon (HC, hydrocarbon)
– Komponen non-Hidrokarbon

2.1 Komponen Hidrokarbon
Minyak bumi merupakan campuran dari beratus–ratus senyawaan hidrokarbon, yang dikelompokan atas hidrokarbon parafin, naften dan aromat.
Jumlah atom karbon dalam minyak bumi mulai dari metana (satu atom karbon dalam molekulnya) sampai 60 atau lebih, dengan berat molekul 16 sampai 850 atau lebih.
1.     Hidrokarbon parafin, mulai dari metana yaitu senyawaan hidrokarbon yang paling kecil dengan 1 atom karbon sampai senyawaan hidrokarbon besar dengan 42 atom karbon (berat molekul 590) atau lebih. Hidrokarbon parafin terdiri dari normal parafin dan isoparafin
2.     Hidrokarbon naften, mulai dari mono naften sampai poli naften
3.     Hidrokarbon aromat, mulai dari mono inti benzena sampai poli inti benzena.

Hidrokarbon Parafin adalah hidrokarbon jenuh dengan ikatan C – C dan C – Hdengan struktur rantai atom C terbuka.  HC parafin mempunyai titik didih paling rendah diantara hidrokarbon naften dan aromatik. Oleh karena itu banyak terdapat pada fraksi ringan.
Sifat – sifat :
– nilai kalor tinggi (btu/lb),
– SG rendah,
– API gravity tinggi
– tahan terhadap oksidasi,
– mudah untuk dipecah (cracking) dalam proses perengkahan panas ( thermal cracking ) maupun proses perengkahan katalis (catalytic cracking) artinya proses cracking itu berjalan pada suhu yang relative rendah dibanding dengan senyawaan hidrokarbon naften dan aromat.
Rumus CnH2n+2
Hidrokarbon parafin, baik normal parafin maupun parafin cabang (iso parafin)  rumusnya adalah CnH2n+2 .

Hidrokarbon Naften, terdiri dari mononaften dan polinaften.
Hidrokarbon naften adalah hidrokarbon jenuh dengan ikatan C – C dan C – Hdengan struktur rantai atom C tertutup. Struktur molekulnya terdiri mononaften dan polinaften.
Sifat – sifat :
Hidrokarbon naften mempunyai sifat– sifat diantara hidrokarbon parafin dan hidrokarbon aromat. Hidrokarbon naften disebut pula sikloparafin atau siklo alkana. Dibandingkan dengan hidrokarbon parafin, hidrokarbon ini lebih stabil karena mempunyai rantai atom C tertutup sedang hidrokarbon parafin rantai atom C nya terbuka.
Rumus : CnH2n + 2 – 2RN
Hidrokarbon naften, rumusnya adalah CnH2n + 2 – 2RN , dimana RN adalah cincin naften dalam molekul.
Contoh  pada gambar di bawah ini :
naphten

Hidrokarbon Aromatik, terdiri dari monoaromat dan poliaromat
Hidrokarbon aromatik adalah hidrokarbon jenuh dengan ikatan C – C, C = C danC – H. Dikatakan hidrokarbon jenuh karena senyawa aromatik :
– tidak dapat bereaksi dengan larutan brom, dan atau
– tidak dapat bereaksi dengan larutan KMnO4 alkalis.

Hidrokarbon aromat ini mempunyai struktur rantai atom C tertutup berikatan rangkap dua dan tunggal yang saling bergantian (selang–seling–selang atau seling–selang–seling) diantara kedua atom C yang berdekatan.
Sifat – sifat :
– Dibandingkan dengan hidrokarbon parafin dan hidrokarbon naften, bahwa hidrokarbon aromat kurang stabil dan dapat bereaksi terutama dengan gas H2 menghasilkan naften.
– Mempunyai titik didih lebih tinggi dibandingkan dengan hidrokarbon parafin dan naften. Oleh karena itu banyak terdapat pada fraksi berat.
– Nilai kalor rendah (btu/lb),
– SG tinggi
– API gravity rendah dan namun tahan terhadap oksidasi.
– Memerlukan panas tinggi untuk proses thermal cracking ataupun catalytic cracking, menghasilkan naften dan parafin.dengan jumlah atom lebih kecil.
Rumus CnH2n +2 – 6RA – 2RAS
Hidrokarbon aromat rumusnya adalah CnH2n +2 – 6RA – 2RAS , dimana RA = jumlah cincin aromatik dan RAS = jumlah cincin aromatik substansial. Sedang hidrokarbon campuran naften aromatik mempunyai rumus CnH2n +2RN – 6RA – 2RAS.
Contoh pada gambar dibawah ini :
benzen
Benzene -- Monoaromat
poli aromat
Napthalene --  Poliaromat

Atas dasar pembagian senyawaan hidrokarbon tersebut atas parafin, naftendan aromatik, dan campuran naften–aromatik, dapat digunakan untuk menentukan klasifikasi minyak bumi, yaitu minyak bumi parafinik, naftenik, aromatik dan campuran. Sedang senyawaan hidrokarbon olefin tidak terdapat dalam minyak bumi, hal ini disebabkan oleh proses penjenuhan olefin dalam minyak bumi itu sendiri oleh gas H2 yang melarut di dalamnya.

2.2 Komponen non-Hidrokarbon
Komponen nonhidrokarbon adalah senyawaan yang di dalam molekulnya disamping unsur karbon dan hidrogen terdapat unsur sulfur, oksigen, nitrogen, halogen atau logam. Senyawaan yang demikian disebut senyawaan hidrokarbon heteroatom. Sebagai senyawa organik, keberadaannya melarut dalam minyak bumi, sedang sebagai senyawa anorganik tidak melarut dalam minyak bumi melainkan larut dalam air sebagai emulsi.

· Senyawaan Organik Sulfur
Senyawaan organik sulfur adalah senyawaan organik heteroatom terdiri dari atom karbon, atom hidrogen dan atom sulfur. Terdapatnya senyawaan sulfur dalam minyak bumi sangat berpengaruh dalam proses pengolahan, produk yang dihasilkan dan pada penyimpanan. Pengaruh tersebut adalah penyebab korosif dan berbau. Bila density suatu minyak bumi tinggi (0API rendah), berpeluang kandungan sulfurnya tinggi.

· Senyawaan Organik Oksigen
Oksigen sebagai senyawaan organik dalam minyak bumi terdiri dari berbagai macam senyawaan, dan tidak jelas bagaimana senyawaan oksigen itu dapat terbentuk di dalam minyak bumi. Kandungan oksigen jumlah (total oxygen) dalam minyak bumi umumnya kurang dari 2 %wt. Kandungan oksigen dalam minyak bumi tidak menaik dengan kenaikan titik didih fraksi.
Walaupun kandungan sulfur maupun kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat berpengaruh pada berat jenis API (API gravity), namun tidak demikian halnya bahwa kandungan oksigen dalam minyak bumi tidak proprsional dengan berat jenis API. Hal ini disebabkan karena minyak bumi dimungkinkan berhubungan dengan udara sehingga terdapat oksigen yang bereaksi dengan unsur–unsur yang terkandung dalam minyak bumi untuk menghasilkan senyawaan oksigen.

· Senyawaan Nitrogen Organik
Pada umumnya, kandungan nitrogen dalam minyak bumi adalah rendah, berada dalam kisaran konsentrasi 0,1 sampai 0,9 % wt walaupun beberapa minyak bumi mempunyai kandungan nitrogen sampai 2 %wt. Bagaimanapun untuk beberapa minyak bumi dengan kandungan nitrogen yang tidak terdeteksi ( not detectable ) atau dalam konsentrasi yang sangat kecil ( trace ) adalah tidak umum, bahkan minyak bumi jenis aspaltik mengandung nitrogen dalam jumlah yang sangat tinggi.

· Konstituen Logam
Dalam minyak bumi terdapat kira – kira 20 (dua puluh) unsur logam, dengan konsentrasi yang berbeda. Keberadaan logam dalam minyak bumi sangat menarik perhatian di dalam proses pengolahan walaupun kandungannya sangat kecil.
Pengaruh logam dalam minyak bumi adalah :
– Meskipun dalam jumlah yang kecil, unsur–unsur besi, tembaga dan terutama vanadium dan nikel, yang terdapat dalam umpan perengkahan katalitik mempunyai pengaruh terhadap aktifitas katalis dapat menghasilkan kenaikan pembentukan gas dan kokas (coke) dan menurunkan produk gasoline.
– Dalam pembangkit tenaga pada suhu tinggi, misalnya turbin gas, terdapatnya konstituen logam terutama vanadium dalam bahan bakar, dapat menghasilkan kerak abu dalam rotor turbin, akan mengurangi kebersihan. Disamping itu terdapatnya vanadium juga menyebabkan korosi.
– Abu yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi dengan bata tahan api dapur sehingga menurunkan titik leburnya dan menyebabkan deteriorasi.
– Residu abu yang tertinggal setelah pembakaran minyak bumi berupa konstituen logam ini, sebagian berasal dari senyawaan anorganik yang larut dalam air sebagai garam–garam klorida, kalium, magnesium dan kalsium, yang terdapat dalam fasa air yaitu dalam bentuk emulsi minyak bumi. Garam–garam ini dipisahkan dalam proses pengambilan garam (desalting operations ), dapat juga dengan cara penguapan air yang kemudian dicuci dengan air bebas garam, atau dengan cara memecah emulsi. Dengan cara ini, kandungan garam dalam minyak bumi dapat berkurang.
– Kandungan abu jumlah (total ash ), adalah penjumlahan dari anorganometalik dan organometalik dari minyak bumi yang telah diambil garamnya (desalted crudes), berkisar dari 0,1 sampai 100 mg/liter.
– Logam – logam seperti seng, titanium, kalsium dan magnesium berada dalam bentuk koloidal tersuspensi. dengan sifat permukaan aktif yang teradsorp dalam permukaan air–minyak dan cenderung stabil dalam emulsi. Sebaliknya logam– logam seperti vanadium, tembaga, nikel dan sebagian besi ditemukan dalam minyak bumi sebagai senyawaan logam yang melarut dalam minyak bumi (oil–soluble compounds).


Penilaian Formasi



1.       Jelaskan proses terakumulasinya minyak bumi di reservoir !
Jawab :
Salah satu teori terjadinya minyak bumi adalah teori “dupleks”. Menurut teori ini, minyak bumi terbentuk dari jasad renik yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang telah mati. Jasad renik tersebut terbawa air sungai bersama lumpur dan mengendap di dasar laut. Akibat pengaruh waktu yang mencapai ribuan bahkan jutaan tahun, suhu tinggi, dan tekanan oleh lapisan diatasnya, jasad renik berubah menjadi bintik-bintik dan gelembung minyak atau gas.
Lumpur yang bercampur dengan jasad renik tersebut kemudian berubah menjadi batuan sedimen yang berpori, sementara bintik minyak dan gas yang terbentuk dari plankton bergerak “merembas” ke tempat yang bertekanan rendah dan terakumulasi pada daerah perangkap (“trap”) yang merupakan batuan kedap. Pada daerah perangkap tersebut gas alam, minyak, dan air terakumulasi sebagai deposit minyak bumi. Rongga bagian atas merupakan gas alam kemudian bagian minyak mengambang di atas deposit air.















2.       Sebutkan dan jelaskan Rock Properties dan Fluid Properties yang kalian ketahui dan pelajari sebelumnya (Teknik Reservoir) ?
Jawab :

·         Rock Properties
a.       Porositas


b.       Permeabilitas

c.       Saturasi


·         Fluid Properties
Ø  Gas
a.       Densitas
b.       Viscositas
c.       Faktor volume formasi
d.       Kompresibilitas
e.       Faktor deviasi

Ø  Minyak
a.       Densitas
b.       Viscositas
c.       Faktor volume formasi
d.       Kompresibilitas
e.       Kelarutan Gas

Ø  Air
a.       Densitas
b.       Viscositas
c.       Faktor volume formasi
d.       Kompresibilitas
e.       Kelarutan Gas





3.       Kenapa kita harus melakukan penilaian formasi ?
Jawab :

Karena kita harus mengetahui tentang identifikasi apa-apa saja yang berhubungan dengan field yang di duga memiliki HC untuk memperoleh interpretasi data yang memiliki kesatuan sehingga dapat mengetahui,
antara lain :
·         Identifikasi reservoir
·         Perkiraan cadangan hidrokarbon (OOIP)
·         Perkiraan perolehan hidrokarbon (IOIP)

4.       Apa saja yang kita peroleh ketika melakukan Wireline Logging ?
Jawab :

Maaf sebelumnya bang kayanya ada sedikit kesalahan dengan pertanyaan ini, menurut saya kalau ditanya tentang apa yang kita peroleh mungkin itu lebih pas nya ditujukan kepada pertanyaan yang menunjuk sebuah alat (ex: GR Log, SP Log, dll) Untuk wireline logging itu metode kan ya, jadi kayanya lebih kepada keunggulan atau kelebihan.
Beberapa alasan mengapa Wireline Logging dilakukan, yaitu:
a.       Dapat memberikan data yang akurat, presisi, obyektif, dan bersifat repetitive (berulang).
b.       Datanya bersifat menerus dengan interval mulai dari 15 cm, bahkan bisa sampai 3 cm jika memang diperlukan.
c.       Menghasilkan data-data dari sifat fisik batuan,  yang seterusnya dapat dilakukan analisa porositas, volumen batuan, dan analisa batuan lainnya.
d.       Sifatnya permanen, yaitu data aslinya (Raw File) dapat digunakan kembali jika muncul ide atau metode interpretasi yang berbeda atau baru.
e.       Dari segi waktu, data wireline logging cepat dan langsung  tersedia diwellsite dengan sedikit proses melibatkan wellsite geologist.
f.        Ekonomis, biaya sewa anjungan pemboran merupakan biaya yang tertinggi dalam suatu pemboran minyak (rig cost) jadi karena proseswireline logging relatif cepat maka relatif sangat menguntungkan bagi perusahaan minyak, dibandingkan dengan proses coring yang relatif lebih mahal dan lama.
g.       Bergantung pada parameter geologi, misalnya susunan formasi, sifat fisik batuan, bentuk-bentuk geologi bawah permukaan lainnya. Sehingga seorang geologist yang paham dengan kondisi daerahnya akan merasa diuntungkan dengan adanya wireline logging ini. Dia akan mudah mengetahui adanya unconformity (ketidakselarasan) dengan perkiraan kedalaman tertentu, maka dengan wireline logging dapat dianalisa lebih detil.

5.       Jelaskan bagaimana wireline logging berperan dalam korelasi antar sumur ?
Jawab :

Setelah dilakukan wireline logging menggunakan beberapa macam tools Logging, didapatkan :
a.       Memakai lapisan penunjuk ( key bed / marker bed)
Lapisan yang dicirikan key bed antara lain abu vulkanik, batugamping terumbu, lapisan tipis serpih.
b.       Horizon dengan karakteristik tertentu karena perubahan kimiawi dari massa air akibat perubahan pada sirkulasi air seperti zona mineral tertentu atau zona kimiawi tertentu.
c.       Korelasi dengan cara meneruskan bidang refleksi pada penampang seismik
d.       Korelasi atas dasar persamaan posisi stratigrafi batuan.
e.       Korelasi atas dasar aspek fisis/litologis.
f.        Korelasi atas dasar maksimum flooding surface.

Dari data-data diatas kemudian di olah sedemikian rupa dalam prosedur korelasi:
·         Menentukan horizon korelasi dengan cara membandingkan log mekanik dari suatu sumur tertentu terhadap sumur yang lain dan mencari bentuk-bentuk / pola-pola log yang sama atau hampir sama.
·         Setelah bentuk/pola yang relatif sama dan didapatkan telah diyakini pula bahwa bentuk dan pola tersebut mewakili perlapisan yang sama, selanjutnya dilakukan pekerjaan menghubungkan bentuk-bentuk kurva yang sama atau hampir sama dengan bagian yang dari bagian atas kearah bawah secara kontinyu. Korelasi secara top down dihentikan jika korelasi tidak bisa dilakukan lagi, kemudian korelasi dilakukan secara bottom up. Adanya zona-zona yang tidak bisa dikorelasikan dapat ditafsirkan karena pengaruh struktur (patahan, ketidakselarasan) atau stratigrafi (pembajian, channel fill, pemancungan, perubahan fasies)


·         Setelah korelasi selesai dilakukan akan didapatkan penampang melintang, baik penampang struktur ataupun penampang stratigrafi. Dalam pembuatan penampang strruktur datum diletakkan pada posisi seperti keadaan saat ini (biasanya sea level sebagai datum).

Hingga akhirnya data korelasi antar sumurpun didapatkan.